Berkat Kelenjar Racun Ular Picung, Yasmin Nadhiva Lulus dengan IPK 4,00

Berkat Kelenjar Racun Ular Picung, Yasmin Nadhiva Lulus dengan IPK 4,00

Ketertarikan pada detail anatomi satwa membawa Yasmin Nadhiva Narindria meraih predikat sebagai Lulusan Terbaik Program Magister IPB University saat momen Wisuda Desember 2025 lalu.--IPB

NTB, DISWAY.ID - Ketertarikan pada detail anatomi satwa membawa Yasmin Nadhiva Narindria meraih predikat sebagai Lulusan Terbaik Program Magister IPB University saat momen Wisuda Desember 2025 lalu.

Menempuh studi magister di Program Studi Ilmu Biomedis Hewan, Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Yasmin berhasil lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 4,00.

Prestasi tersebut diraih melalui penelitian tesisnya mengenai struktur kelenjar nuchalis (kelenjar racun) pada ular picung (Rhabdophis subminiatus), spesies ular endemik Indonesia yang masih menyimpan banyak celah pengetahuan ilmiah.

BACA JUGA:Lulusan Baru Wajib Tahu! Magang Nasional Batch 2 Hadir November 2025

Dalam penelitiannya, Yasmin mengkaji kelenjar nuchalis ular picung yang berfungsi menghasilkan racun (toxin).

Ia menjelaskan bahwa racun dan bisa pada ular merupakan dua substansi yang berbeda. 

“Racun umumnya digunakan sebagai mekanisme pertahanan pasif terhadap predator, sedangkan bisa (venom) digunakan untuk melumpuhkan mangsa dan disalurkan melalui taring atau gigi,” jelasnya.

BACA JUGA:Prabowo Resmikan SMA Taruna Nusantara Kampus Malang

Ia menambahkan, “Ular picung dikenal berbisa, tetapi selain memiliki kelenjar bisa, spesies ini juga memiliki kelenjar racun yang masih belum banyak diketahui.”

Ular picung merupakan satwa endemik Indonesia yang tersebar di Pulau Jawa, beberapa wilayah Sumatra, dan Sulawesi.

Sampel penelitian Yasmin diambil dari wilayah Jawa Barat, yakni Bogor dan Bandung, dengan habitat alami di sekitar sungai atau area lembap dekat perairan.

Hingga saat ini, populasi ular picung masih tergolong melimpah dan berstatus least concern atau tidak terancam punah.

Yasmin menambahkan, penelitian terkait racun ular picung masih sangat terbuka untuk dikembangkan karena minimnya informasi, baik di kalangan masyarakat umum maupun peneliti. 

“Semoga hasil penelitian ini bisa memperkaya pengetahuan tentang biologi ular picung serta membuka peluang pemanfaatan racun sebagai bahan biologis, seperti pengembangan antitoksin atau antiserum,” kata Yasmin.

Sumber: