Pakar Genetika Ekologi: Perdagangan Ilegal Satwa Liar Picu Risiko Pandemi Baru
Kematian gajah sumatra asal Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang menjadi korban perburuan liar mencerminkan betapa kronisnya perburuan satwa liar di Indonesia.--Mongabay
NTB, DISWAY.ID - Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, menuturkan bahwa salah satu dampak negatif maraknya perdagangan ilegal satwa liar adalah meningkatnya risiko penularan zoonosis (penyakit menular dari hewan ke manusia).
Bahkan, aktivitas tersebut juga bisa memicu munculnya wabah baru.
Data empiris menunjukkan Indonesia masih terjebak dalam jaringan perdagangan ilegal satwa liar dengan pangsa pasar yang menguntungkan.
Keanekaragaman hayati yang tinggi justru menjadi daya tarik utama bagi perdagangan global.
“Penelitian dari Universitas Fribourg menunjukkan mamalia yang diperdagangkan secara global 1,5 kali lebih berisiko menjadi inang zoonosis dibandingkan yang tidak diperdagangkan. Patogen yang sering ditemukan meliputi virus corona, influenza, rabies, hingga parasit zoonotik,” ujarnya.
BACA JUGA:Marak Kematian Gajah Sumatera, Perburuan Satwa Liar Rendahkan Martabat Indonesia
Ia menjelaskan, satwa liar yang ditangkap biasanya berada dalam kondisi stres sehingga sistem imunnya menurun dan memicu pelepasan virus atau bakteri.
Selama pengangkutan, satwa juga sering kali ditempatkan dalam kandang kecil dan bercampur dengan spesies lain yang dapat memperbesar kemungkinan pertukaran patogen.
Selain itu, kontak langsung dengan darah, daging, atau cairan tubuh hewan liar saat penjualan ataupun konsumsi juga bisa menjadi jalur penularan.
Bahkan, ketika dijadikan hewan peliharaan, satwa liar tetap berpotensi membawa patogen ke lingkungan rumah.
“Kasus perdagangan ilegal burung kuau raja, owa ungko, dan kucing emas di Sumatera Barat tahun 2022 menunjukkan potensi penyebaran patogen yang bisa menular ke manusia,” jelasnya.
BACA JUGA:BKSDA NTB Siaga! Satwa Liar Dijaga Ketat Selama MotoGP Mandalika 2025
Di tingkat global, wabah seperti SARS, MERS, dan COVID-19 berhubungan dengan interaksi manusia dan satwa liar. Perdagangan ilegal lewat media sosial memperluas jangkauan tanpa pengawasan kesehatan sekaligus mempercepat penyebaran patogen lintas wilayah melalui rantai distribusi internasional.
“Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, perdagangan ini berpotensi memicu pandemi baru dengan biaya penanggulangan yang sangat besar,” tegasnya.
Sumber: