Ultra-Processed Food Mengintai, Pakar Gizi Ingatkan Bahaya Jajanan Anak

Ultra-Processed Food Mengintai, Pakar Gizi Ingatkan Bahaya Jajanan Anak

Bahaya resiko anak mengonsumsi Ultra-Processed Food terlalu banyak--Unair

NTB, DISWAY.ID - Makanan ultra-processed food (UPF) kini semakin mudah ditemukan dan sering kali menjadi pilihan anak-anak karena praktis dan rasanya menarik.

Namun, konsumsi berlebihan makanan ini berpotensi menimbulkan berbagai risiko kesehatan.

Kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat berdampak pada tumbuh kembang anak, baik dalam jangka pendek maupun panjang.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Dr dr Karina Rahmadia Ekawidyani, menjelaskan bahwa UPF merupakan makanan yang mengalami proses pengolahan sangat intensif. 

“Makanan ultra processed itu makanan yang mengalami pengolahan yang sangat banyak, sehingga bentuk makanan aslinya sudah tidak bisa kita lihat,” ujarnya dalam IPB Pedia di Youtube IPB TV.

BACA JUGA:Bebas Kantuk Saat Mudik, Ini Saran Asupan Penting dari Ahli Gizi

GGL Tinggi, Gizi Rendah

Dr Karina menyebut, UPF umumnya mengandung gula, garam, dan lemak (GGL) dalam jumlah tinggi, serta berbagai bahan tambahan.

“Biasanya ditambahkan dengan banyak bahan seperti gula, garam, minyak, dan juga zat aditif seperti pengawet dan pewarna,” jelasnya.

Contoh UPF antara lain minuman berpemanis, makanan ringan kemasan, serta produk olahan seperti nuget dan sosis.

Ia menambahkan, makanan ini cenderung tinggi kalori tetapi rendah zat gizi penting. “Jika dikonsumsi berlebihan, anak berisiko kelebihan kalori, tetapi kekurangan serat, vitamin, dan mineral,” ungkapnya.

BACA JUGA:Jangan Langsung Gorengan Saat Buka Puasa, Ahli Gizi Ungkap Dampaknya bagi Kesehatan

Risiko Kesehatan Sejak Dini

Dampak konsumsi UPF dapat muncul dalam waktu singkat hingga jangka panjang.

Dalam jangka pendek, makanan tinggi gula dapat memicu karies gigi dan gangguan pencernaan seperti sembelit akibat rendahnya serat.

Sementara itu, kebiasaan konsumsi jangka panjang dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, hingga hipertensi.

Sumber: