Proses ini dapat menyebabkan kerusakan permanen pada struktur tanah dan bangunan di atasnya.
“Kondisi ini menyebabkan lapisan tanah mengalami konsolidasi dan menyusut secara permanen. Tanah turun dan tidak bisa kembali ke kondisi semula,” jelasnya.
Prof Satyanto menyebutkan, lapisan tanah yang paling rentan mengalami penurunan adalah lempung lunak dan tanah organik tebal, yang banyak ditemukan di wilayah pesisir utara Jawa.
BACA JUGA:GOAT MotoGP? Kevin Schwartz Tegas Jawab Soal Marquez vs Rossi
Jenis tanah ini memiliki kompresibilitas tinggi dan mudah kolaps ketika airnya dikeluarkan secara paksa.
Jika kondisi ini dibiarkan, Prof Satyanto memperingatkan potensi kerusakan daya dukung lahan secara permanen, mulai dari kerusakan fondasi bangunan, intrusi air laut, hingga salinisasi tanah.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk pengetatan perizinan air tanah, penyediaan infrastruktur air permukaan, serta penerapan rainwater harvesting, biopori, dan pengurangan perkerasan lahan yang mengurangi resapan.
“Ini merupakan keharusan jika kita ingin menghentikan laju kerusakan ini,” pungkasnya.