Saat ini tersedia regimen terapi yang lebih ramah bagi pasien usia lanjut, dengan pendekatan yang menyeimbangkan efektivitas pengobatan dan kualitas hidup.
“Keberhasilan terapi tidak hanya diukur dari angka survival rate, tetapi juga dari respon tumor terhadap pengobatan serta kualitas hidup pasien. Terapi yang ideal adalah yang efektif tanpa membuat kondisi pasien semakin memburuk,” tambahnya.
Selain aspek medis, dukungan keluarga memegang peran penting. Salah satu kesalahan yang kerap terjadi adalah pembatasan makanan secara ekstrem akibat mitos yang beredar. Padahal pasien yang menjalani terapi membutuhkan asupan nutrisi cukup untuk membantu proses pemulihan.
“Kanker tak hanya penyakit biologis, tetapi juga berdampak sosial dan emosional. Support system yang kuat membantu pasien tetap semangat dan tidak merasa sendirian dalam menjalani terapi,” ujarnya.
Setelah menyelesaikan pengobatan, lansia penyintas kanker tetap perlu kontrol dan pemantauan rutin untuk mendeteksi kemungkinan kekambuhan serta memantau efek samping terapi.
“Penanganan tepat bagi penyintas kanker lansia adalah kombinasi antara terapi medis yang terukur dan dukungan keluarga yang optimal. Tujuannya bukan sekadar memperpanjang usia, tetapi memastikan kualitas hidup tetap terjaga,” tutup dr. Daniel.