Lebaran dan Potensi Lonjakan Sampah Makanan, Ahli Ingatkan Budaya Konsumsi yang Perlu Dibenahi

Selasa 17-03-2026,14:13 WIB
Reporter : Marieska Virdhani
Editor : Marieska Virdhani

NTB, DISWAY.ID - Di tengah hangatnya tradisi silaturahmi dan berbagi jamuan saat Idulfitri, muncul persoalan yang kerap luput dari perhatian: lonjakan sampah makanan.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Dr Meti Ekayani menilai fenomena ini mencerminkan paradoks dalam budaya konsumsi masyarakat. 

Niat untuk memuliakan tamu dengan menyediakan hidangan berlimpah justru sering berujung pada pemborosan makanan.

“Kalau ditanya penyebabnya, sebenarnya ada dua hal, budaya konsumsi masyarakat dan sistem pengelolaan sampah yang belum efektif,” ujarnya. 

BACA JUGA:Tips Pastikan Keamanan Listrik di Rumah saat Ditinggal Mudik Lebaran

Ia menjelaskan, dalam budaya masyarakat Indonesia yang juga banyak dijumpai di negara Asia dan Timur Tengah, menyediakan makanan berlimpah sering dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada tamu.

Akibatnya, banyak rumah tangga menyiapkan hidangan jauh melebihi kebutuhan.

“Kita cenderung tidak mau dianggap tidak sopan kalau makanan kurang. Jadi lebih baik dilebihkan. Padahal sering kali akhirnya tidak habis,” jelasnya.

Kondisi ini semakin diperparah oleh minimnya perencanaan konsumsi di tingkat rumah tangga.

BACA JUGA:Harga REDMI A7 Pro, HP 1 Jutaan yang Jawab Kebutuhan Anak Muda di Momen Ramadan dan Lebaran

Banyak keluarga memasak atau membeli makanan tanpa memperhitungkan jumlah anggota keluarga yang benar-benar akan makan di rumah.

Fenomena tersebut menjadi semakin terlihat selama Ramadan hingga Idulfitri. Saat berbuka puasa, masyarakat sering membeli berbagai jenis makanan karena “lapar mata”. Namun ketika waktunya makan, tidak semua makanan tersebut benar-benar dikonsumsi.

“Sering kali kita merasa semua makanan terlihat enak saat membeli. Tapi ketika waktunya makan, ternyata tidak habis,” katanya.

BACA JUGA:BNI hadirkan Diskon hingga Rp2 Juta di Berbagai Merchant Fashion Favorit Jelang Lebaran

Selain itu, perubahan aktivitas selama Ramadan juga turut memicu pemborosan makanan. Tidak jarang anggota keluarga memiliki agenda berbuka puasa di luar, sementara makanan sudah terlanjur disiapkan di rumah.

“Misalnya di rumah ada lima orang, tapi ternyata tiga orang berbuka puasa di luar. Akhirnya makanan yang sudah disiapkan menjadi berlebih,” ungkapnya.

Dr Meti menambahkan, persoalan food waste tidak berhenti pada pemborosan makanan.

Dampaknya juga memperbesar timbulan sampah yang harus ditangani kota. Ia menilai sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih belum mampu mendorong masyarakat untuk mengurangi sampah dari sumbernya.

“Pengelolaan sampah kita masih didominasi sistem kumpul ,angkut–buang. Berapa pun sampah yang dihasilkan, iurannya sama. Jadi tidak ada insentif bagi masyarakat untuk mengurangi sampah,” jelasnya.

BACA JUGA:Saran Ahli Gizi Jaga Pola Makan Sehat saat Lebaran Usai Ramadan

Padahal, di sejumlah negara maju sistem pengelolaan sampah dirancang untuk mendorong pengurangan sampah sejak dari rumah tangga.

Salah satunya melalui skema pembayaran iuran berdasarkan volume sampah yang dihasilkan.

Selain itu, Dr Meti juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang belum terbiasa memilah sampah.

Ketika sampah makanan tercampur dengan sampah anorganik seperti kertas atau plastik, material yang sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi menjadi rusak dan tidak dapat dimanfaatkan kembali.

“Kalau food waste tercampur dengan sampah kering, yang tadinya masih bisa dijual atau didaur ulang jadi tidak bisa dimanfaatkan lagi,” ujarnya.

BACA JUGA:Saran Ahli Gizi Jaga Pola Makan Sehat saat Lebaran Usai Ramadan

Karena itu, ia mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui perencanaan konsumsi yang lebih baik serta kebiasaan memilah sampah di tingkat rumah tangga.

Limbah makanan juga dapat diolah kembali, misalnya menjadi kompos atau pakan melalui budi daya maggot.

“Kalau food waste tidak bisa sepenuhnya dicegah, setidaknya bisa diolah. Dengan begitu, kita tidak hanya mengurangi sampah tetapi juga menciptakan manfaat baru dari limbah makanan,” tutupnya.

Kategori :