Bunda, Kebiasaan Sepele Bisa Picu Cacingan dan Ganggu Tumbuh Kembang Anak

Bunda, Kebiasaan Sepele Bisa Picu Cacingan dan Ganggu Tumbuh Kembang Anak

Kekurangan gizi akibat nutrisi yang diambil oleh cacing dapat menghambat pertumbuhan anak dan menurunkan daya tahan tubuh, sehingga anak lebih rentan terhadap penyakit lain--Unair

NTB, DISWAY.ID - Penyakit cacingan masih menjadi persoalan kesehatan yang kerap dialami anak-anak, khususnya di negara beriklim tropis seperti Indonesia. 

Dosen Fakultas Kedokteran (FK) IPB University, dr Yenny Rachmawati, MBiomed, mengatakan, kebiasaan sederhana yang sering dianggap sepele dapat menjadi pintu masuk parasit cacing ke dalam tubuh anak.

Bermain di tanah tanpa alas kaki atau tidak mencuci tangan sebelum makan, contohnya.

“Cacingan adalah infeksi parasit cacing yang paling sering menyerang saluran pencernaan atau usus manusia,” ujar dr Yenny dalam salah satu tayangan IPB Podcast di YouTube IPB TV.

BACA JUGA:Apakah Baking Soda Aman Dikonsumsi Langsung? Ini Kata Ahli

Ia menjelaskan, anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena belum memiliki kesadaran yang baik terhadap kebersihan diri.

Sementara itu, orang dewasa juga tetap berisiko terinfeksi, meskipun tingkat kejadiannya lebih rendah karena kesadaran higienitas dan daya tahan tubuh yang lebih baik.

Indonesia sendiri termasuk negara endemis kecacingan.

dr Yenny menyebutkan bahwa secara global, sekitar 20–30 persen anak di Indonesia terdeteksi mengalami cacingan, bahkan di beberapa wilayah terpencil prevalensinya dapat mencapai 60–90 persen.

BACA JUGA:Ahli Sebut Fenomena CENS Picu Anomali Pola Hujan Awal Tahun di Pulau Jawa

Jenis cacing yang paling sering menginfeksi manusia antara lain cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing tambang, cacing cambuk, serta cacing kremi, yang sebagian besar ditularkan melalui tanah atau lingkungan yang terkontaminasi telur cacing.

Terkait gejala, dr Yenny menjelaskan bahwa infeksi cacing kerap tidak menunjukkan tanda pada tahap awal.

“Jika jumlah cacing masih sedikit, sering kali tidak ada gejala sama sekali,” jelasnya.

Namun, ketika jumlah parasit meningkat, anak dapat mengalami kekurangan gizi, anemia, nyeri perut, diare, gatal di sekitar anus, hingga gangguan tidur.

Sumber: