NTB, DISWAY.ID - Pernyataan Menteri Kesehatan RI yang menyebutkan sekitar 28 juta orang Indonesia mengalami masalah kejiwaan dinilai masih masuk akal.
Penilaian tersebut disampaikan dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc, seorang psikiater, menanggapi viralnya pernyataan tersebut.
dr Riati menyatakan bahwa berbagai data menunjukkan jumlah masyarakat yang mengalami masalah kejiwaan memang sangat besar.
Namun demikian, ia menekankan bahwa angka tersebut perlu dipahami secara hati-hati.
“Angka itu sangat bergantung pada apa yang dimaksud dengan masalah kejiwaan dan dari data tahun berapa angka tersebut diambil,” ujarnya dalam wawancara tertulis dengan Redaksi IPB Today.
BACA JUGA:Ahli Ingatkan Hama Wereng dan Virus Kerdil Ancam Swasembada Beras
Menurut dr Riati, yang terpenting bukan hanya besarnya angka, melainkan kejelasan maknanya.
Ia mempertanyakan apakah yang dimaksud masalah kejiwaan hanya mencakup gangguan jiwa berat atau juga termasuk stres, kecemasan, dan gangguan emosional lainnya.
“Meski demikian, apa pun definisinya, angka tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental merupakan persoalan serius yang dialami jutaan orang di Indonesia dan perlu penanganan yang lebih sungguh-sungguh,” tegasnya.
BACA JUGA:Ahli Sebut Fenomena CENS Picu Anomali Pola Hujan Awal Tahun di Pulau Jawa
dr Riati menjelaskan bahwa terdapat sejumlah kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kejiwaan.
Mereka adalah anak dan remaja yang masih berada dalam masa perkembangan emosi dan identitas, serta rentan terhadap tekanan sekolah, pergaulan, perundungan, dan pengaruh media sosial.
Selain itu, kelompok usia produktif atau pekerja juga berisiko.
Tuntutan kerja, target, persaingan, serta masalah ekonomi keluarga yang kerap mereka hadapi dapat memicu stres, kecemasan, dan depresi. Perempuan dinilai lebih rentan akibat faktor biologis seperti hormonal, peran ganda di rumah dan tempat kerja, serta tekanan relasi dan kekerasan psikologis.
Masyarakat perkotaan juga disebut berisiko karena hidup dengan ritme cepat, tingkat kompetisi tinggi, biaya hidup mahal, serta hubungan sosial yang cenderung individual.