“Ketika konsumen sampai berebut beli, itu menandakan kebutuhan muncul dan pasar merespons dengan cepat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dr Tjahja menyebut fenomena war takjil membawa dampak positif bagi UMKM. Produk yang dijajakan cenderung laku keras dan hampir tidak tersisa.
Meski demikian, ia mengingatkan pelaku UMKM agar tetap kreatif dan mau mengikuti tren.
“Asalkan UMKM mau ikut tren produk dan tidak monoton dengan produk yang kurang disukai konsumen,” katanya.
Dari sisi konsumen, war takjil justru memudahkan masyarakat dalam mencari variasi menu berbuka. Beragam pilihan hidangan membuat keluarga memiliki lebih banyak opsi sajian saat berbuka puasa.
BACA JUGA:Pilihan Buah Terbaik untuk Berbuka Puasa, Ampuh Kembalikan Energi
Namun demikian, Dr Tjahja juga menekankan pentingnya aspek kebersihan dan keamanan pangan.
Ia mengingatkan bahwa fenomena ini membuka peluang bagi siapa saja untuk berjualan, sehingga pengawasan terhadap kualitas dan kebersihan produk menjadi hal yang krusial.
“Para UMKM perlu menjaga kebersihan produk, wadah, penyajian, bahkan penjualnya. Gunakan perlengkapan standar, minimal masker dan sarung tangan bersih saat melayani konsumen,” ungkapnya.
BACA JUGA:Saran Ahli Atasi Perut Begah Saat Buka Puasa
Ia juga menyarankan pelaku usaha untuk mengikuti tren, tidak masalah meniru produk yang sedang viral, serta mencantumkan harga jual secara jelas agar konsumen merasa nyaman dan tidak khawatir akan ‘digetok harga’.
“Semua bisa jualan dan gelar lapak. Karena itu, aspek kebersihan sangat penting untuk mencegah risiko keracunan atau penyakit,” pungkasnya.