“Kami mengembangkan sistem prediksi berbasis dampak agar informasi lebih actionable bagi masyarakat,” terang dia.
Pendekatan ilmiah lain disampaikan Kepala Pusat Pengelolaan Peluang dan Risiko Iklim Kawasan Asia Tenggara dan Pasific (CCROM-SEAP), Dr I Putu Santikayasa.
BACA JUGA:BTN Peduli Gandeng Kampus untuk Salurkan Bantuan ke Korban Terdampak Banjir di Aceh
Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki dinamika atmosfer kompleks karena dipengaruhi monsun, El Nino Southern Oscillation, Indian Ocean Dipole, dan Medan Julian Oscillation.
“Pola hujan Indonesia sangat kompleks,” jelasnya. Menurutnya, risiko banjir meningkat ketika perubahan iklim bertemu dengan kebijakan tata ruang yang tidak adaptif.
Alih fungsi lahan, urbanisasi cepat, serta berkurangnya daerah resapan air memperbesar dampak hujan ekstrem.
Karena itu, ia menilai kebijakan tata guna lahan harus menjadi bagian dari strategi adaptasi iklim.
“Tata guna lahan harus mendukung adaptasi banjir,” tambahnya.
BACA JUGA:Aksi BUMN Peduli, Danantara Bersama BP BUMN dan BTN Kerahkan Bantuan untuk Korban Banjir Sumatera
Kritik lebih tajam disampaikan Kepala Departemen Organisasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Tubagus Saleh Ahmadi.
“Kita menghadapi kebangkrutan ekologis,” lugasnya.
Tubagus menilai banjir sebagai manifestasi krisis ekologis akibat eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali.
Kerusakan hutan dan daerah aliran sungai disebut mempercepat siklus bencana.
Ia juga menyoroti ketimpangan dampak bencana yang lebih banyak menimpa kelompok rentan. Pendekatan kebijakan yang terlalu teknokratik dinilai belum menyentuh akar persoalan sosial.
“Partisipasi lokal adalah kunci pengurangan risiko,” tegasnya.