Ramai di Media Sosial, Ahli Luruskan Fenomena Awan Kontainer
Foto Ilustrasi Hujan Mendung, Istilah ini kerap dikaitkan dengan kondisi cuaca ekstrem serta hujan yang memicu berbagai keluhan kesehatan, mulai dari gatal-gatal pada kulit, mata perih, hingga munculnya busa pada air hujan yang ditampung warga. --YouTube KONGKORONGOK
NTB, DISWAY.ID - Fenomena yang disebut sebagai “awan kontainer” belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.
Istilah ini kerap dikaitkan dengan kondisi cuaca ekstrem serta hujan yang memicu berbagai keluhan kesehatan, mulai dari gatal-gatal pada kulit, mata perih, hingga munculnya busa pada air hujan yang ditampung warga.
Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, menegaskan bahwa istilah awan kontainer tidak dikenal dalam ilmu meteorologi dan lebih merupakan kesalahpahaman dalam memahami fenomena atmosfer.
BACA JUGA:Ahli Ingatkan Risiko Kesehatan Air Sinkhole di Sumatera Barat
Berdasarkan klaim dan narasi yang beredar di media sosial, ia menilai ada kekeliruan dalam memahami proses terbentuknya hujan, khususnya pada tahap awal presipitasi.
“Kesimpulan saya, ada kekeliruan dalam memahami proses presipitasi, terutama pada tahap pengintian atau pembentukan inti kondensasi,” ujarnya merespons viralnya fenomena awan kontainer.
Sonny menjelaskan bahwa hujan yang menyebabkan keluhan seperti gatal-gatal pada kulit, mata perih, maupun terbentuknya busa pada air hujan yang ditampung, bukan disebabkan oleh jenis awan tertentu, melainkan berkaitan dengan fenomena hujan asam.
“Hujan asam terjadi akibat gas-gas polutan di udara yang berperan sebagai inti kondensasi, kemudian larut dalam air hujan. Apalagi di wilayah dengan tingkat polusi udara tinggi, potensi terjadinya hujan asam memang lebih besar,” jelasnya.
BACA JUGA:Buktikan Manfaat Konsumsi Makanan Kukusan Bagi Kesehatan, Ini Kata Ahli
Terkait penggunaan istilah “awan kontainer” oleh sejumlah pembuat konten, Sonni menilai istilah tersebut lebih merupakan sudut pandang subjektif dan tidak memiliki dasar ilmiah.
“Sampai saat ini, tidak ada istilah atau konsep dalam meteorologi yang menyebutkan keberadaan ‘awan kontainer’ seperti yang dimaksud,” tegasnya.
Menurutnya, awan secara alami selalu bergerak dan berubah bentuk mengikuti dinamika atmosfer.
Anggapan bahwa ada awan yang tampak kaku atau tidak bergerak kemungkinan besar muncul dari pengamatan visual yang sangat terbatas dalam rentang waktu singkat.
BACA JUGA:Benarkah Super Flu Jenis Penyakit Baru dan Bahaya? Simak Penjelasan Ahli
Sumber: