Mengenal Aturan Diet OMAD, Siapa Saja yang Cocok dan Apa Manfaatnya

Mengenal Aturan Diet OMAD, Siapa Saja yang Cocok dan Apa Manfaatnya

Mahasiswa harus paham gizi seimbang dan makanan bergizi--Freepik

Ia juga mengingatkan bahwa kualitas makanan menjadi sangat krusial dalam pola OMAD.

“Karena seluruh kebutuhan energi dan zat gizi harian dikonsumsi hanya dalam satu kali makan, maka menu harus padat gizi, seimbang, dan mudah dicerna,” katanya.

Menu yang Disarankan

Dalam satu porsi OMAD, Prof Anna menyarankan adanya protein berkualitas tinggi untuk mencegah kehilangan massa otot, seperti ikan, telur, dada ayam tanpa kulit, daging tanpa lemak, tahu, dan tempe. 

Kemudian karbohidrat kompleks seperti nasi merah, ubi, oat, atau jagung diperlukan sebagai sumber energi berkelanjutan. Sementara lemak sehat dari alpukat, minyak zaitun, kacang-kacangan, dan ikan berlemak, berperan menjaga rasa kenyang dan keseimbangan hormon.

Sayur tinggi serat wajib dikonsumsi minimal setengah piring, dilengkapi buah secukupnya agar asupan gula tidak berlebihan. Selain itu, kecukupan cairan dan elektrolit juga harus diperhatikan melalui konsumsi air putih, sup bening, atau kaldu.

BACA JUGA:Benarkah Super Flu Jenis Penyakit Baru dan Bahaya? Simak Penjelasan Ahli

“Yang perlu dibatasi adalah gorengan berlebihan, minuman manis, ultra processed food (UPF), serta makanan yang terlalu pedas atau asam karena berisiko memicu gangguan lambung,” tambahnya.

Prof Anna juga memaparkan sejumlah risiko OMAD jika dilakukan terlalu dini atau tidak tepat, antara lain hipoglikemia, gangguan pencernaan, penurunan massa otot, defisiensi mikronutrien, hingga risiko binge eating (makan terlalu banyak, sulit kontrol) saat waktu makan tiba.

Sebagai alternatif yang lebih aman untuk manajemen berat badan dan kesehatan metabolik, ia merekomendasikan pola puasa 12–14 jam, pola makan tiga kali sehari dengan satu hingga dua camilan sehat, atau intermittent fasting 16:8 yang dinilai lebih moderat dibandingkan OMAD.

“Intinya, diet harus disesuaikan dengan kondisi tubuh dan kebutuhan individu, bukan sekadar mengikuti tren,” pungkas Prof Anna.

Sumber: