Mengenal Aturan Diet OMAD, Siapa Saja yang Cocok dan Apa Manfaatnya

Mengenal Aturan Diet OMAD, Siapa Saja yang Cocok dan Apa Manfaatnya

Mahasiswa harus paham gizi seimbang dan makanan bergizi--Freepik

NTB, DISWAY.ID - Tren diet ekstrem kian populer sebagai jalan pintas menurunkan berat badan, salah satunya diet one meal a day (OMAD).

Meski tengah jadi sorotan, Ahli Gizi IPB University, Prof Sri Anna Marliyati, mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati dalam menjalani diet ini, apalagi bagi pemula.

Diet OMAD merupakan pola puasa intermiten ekstrem dengan hanya satu kali makan dalam sehari. Prof Anna mengutarakan, diet semacam ini tidak cocok untuk semua orang dan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan bila dilakukan tanpa persiapan dan pemahaman yang tepat.

“Diet OMAD sebaiknya tidak dilakukan secara sembarangan, khususnya oleh individu yang baru mencoba pola puasa. Sebaiknya dilakukan dengan hati-hati, apalagi bagi pemula,” jelasnya.

BACA JUGA:Ramai di Media Sosial, Ahli Luruskan Fenomena Awan Kontainer

Bukan tanpa alasan. Menurutnya, hal tersebut bisa berakibat pada gangguan kesehatan seperti kurang energi dan kurang gizi, gula darah rendah (hipoglikemia), serta gangguan lambung karena lambung dibiarkan kosong terlalu lama.

Menurut Prof Anna, OMAD relatif aman hanya bagi orang dewasa sehat yang tidak sedang hamil atau menyusui, tidak memiliki riwayat gangguan makan, tidak menderita penyakit kronis seperti diabetes atau maag berat, serta memiliki status gizi normal dan tidak anemia. 

Sebaliknya, diet ini tidak dianjurkan untuk anak-anak dan remaja di bawah 18 tahun karena masih berada dalam masa pertumbuhan dan membutuhkan asupan gizi merata sepanjang hari.

Ibu hamil, ibu menyusui, serta lansia juga tidak disarankan menjalani OMAD karena berisiko mengalami kekurangan energi, hipoglikemia, penurunan massa otot, hingga dehidrasi.

BACA JUGA:Ahli Ingatkan Risiko Kesehatan Air Sinkhole di Sumatera Barat

“OMAD dapat dipertimbangkan bagi orang dewasa sehat usia 20 tahun ke atas yang memiliki tujuan tertentu, seperti menurunkan berat badan akibat kegemukan. Dengan diet ini, asupan energi diharapkan menurun sehingga berat badan dapat berkurang secara bertahap,” kata Prof Anna. 

Namun demikian, ia menekankan pentingnya tahapan adaptasi sebelum menjalani puasa ekstrem.

“Sebelum mencoba OMAD dengan puasa sekitar 22–23 jam, sebaiknya seseorang memulai dari intermittent fasting (IF) yang lebih ringan, misalnya puasa 12–14 jam. Hal ini bertujuan agar lambung dan tubuh terbiasa terlebih dahulu,” jelasnya.

BACA JUGA:Buktikan Manfaat Konsumsi Makanan Kukusan Bagi Kesehatan, Ini Kata Ahli

Sumber: