Soroti Kasus Bunuh Diri Anak, Pakar Tekankan Peran Keluarga dan Lingkungan
Ilustrasi. Indonesia memiliki angka kasus bunuh diri anak tertinggi di Asia Tenggara.-Freepik-
“Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus tanpa pengawasan orang tua dan komunikasi yang baik dalam keluarga, maka dapat memicu kecemasan, kegelisahan, bahkan kebencian terhadap diri sendiri,” kata Prof Dwi.
BACA JUGA:Komitmen Nyata Untuk Pendidikan, Bank Mandiri Bagikan Ribuan Tas ke Anak di Lombok
Ia menekankan pentingnya kedekatan orang tua, khususnya ibu, dengan anak agar tercipta kepercayaan. Dengan adanya rasa percaya, anak akan lebih terbuka menyampaikan perasaan sedih, gelisah, maupun kesulitan yang mereka alami sehingga dapat dideteksi lebih dini.
Selain keluarga, guru, dan teman di sekolah juga memiliki peran dalam mencegah perilaku bunuh diri.
Menurutnya, tanda-tanda perilaku menyimpang pada anak perlu disampaikan secara bijaksana kepada orang tua tanpa mempermalukan atau merendahkan harga diri anak.
Ia juga menekankan pentingnya membangun budaya saling menghargai di sekolah sehingga siswa dapat saling mendukung ketika menghadapi masalah. Nilai gotong royong, kata dia, perlu diperkuat dalam lingkungan pendidikan.
Prof Dwi menilai pencegahan bunuh diri anak membutuhkan keterlibatan seluruh ekosistem masyarakat.
BACA JUGA:Hati-Hati Ikut Tren Edit Wajah Anak dengan AI, Pakar Ingatkan Risiko Ini
“Dibutuhkan kepedulian bersama karena membesarkan anak memerlukan dukungan lingkungan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan pendidikan keluarga dan program parenting agar orang tua mampu menjalankan peran pengasuhan secara optimal.
Selain itu, orang tua perlu mengawasi akses anak terhadap media sosial, membatasi penggunaan internet, serta mendorong aktivitas fisik, olahraga, dan pola hidup sehat.
“Anak juga perlu diajak memahami realitas sosial di masyarakat, termasuk melihat kondisi kelompok yang kurang beruntung. Ini bisa menumbuhkan empati yang kuat dan membantu membangun karakter anak yang lebih tangguh,” tutupnya.
Sumber: