Soroti Kasus Bunuh Diri Anak, Pakar Tekankan Peran Keluarga dan Lingkungan
Ilustrasi. Indonesia memiliki angka kasus bunuh diri anak tertinggi di Asia Tenggara.-Freepik-
NTB, DISWAY.ID - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merilis data bahwa Indonesia memiliki angka kasus bunuh diri Anak tertinggi di Asia Tenggara.
Menanggapi hal tersebut, Pakar Pengasuhan Anak IPB University, Prof Dwi Hastuti, menilai perlu adanya pemantauan data yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
“Perlu dicek apakah ada data surveilans yang memantau perkembangan ini secara kontinu, karena seharusnya terdapat data yang berkelanjutan terkait angka bunuh diri serta kenakalan anak dan remaja di Indonesia,” ujarnya.
BACA JUGA:Anak Muda Kini Rentan Penyakit Ginjal, Kenali Penyebab dan Pencegahannya
Pentingnya Kedekatan Emosional
Ia menjelaskan, anak yang melakukan bunuh diri umumnya berada dalam kondisi keputusasaan dan kehilangan harapan.
Kondisi tersebut seharusnya dapat dicegah melalui kedekatan emosional antara anak dan orang tua.
“Pada usia prasekolah, kedekatan anak biasanya lebih kuat dengan ibu. Sementara saat memasuki usia sekolah hingga remaja, kedekatan dengan ayah juga menjadi penting. Namun, kedekatan tersebut hanya dapat terbangun apabila terdapat interaksi yang cukup sejak masa kanak-kanak,” urainya.
BACA JUGA:Seberapa Efektif Peraturan Larangan Medsos bagi Anak?
Prof Dwi menyebutkan bahwa anak yang kehilangan harapan biasanya mengalami stres, frustrasi, hingga depresi.
Dalam banyak kasus, orang tua tidak menyadari tanda-tanda stres pada anak hingga kondisi tersebut berkembang menjadi lebih serius.
Sumber stres pada anak, lanjutnya, sangat beragam, mulai dari kondisi hubungan dalam keluarga, pertemanan di sekolah, lingkungan sosial, hingga aktivitas di organisasi.
Selain itu, paparan media sosial yang intens juga dapat memicu tekanan psikologis pada anak.
Menurutnya, media sosial kerap menampilkan gaya hidup yang menimbulkan kesenjangan antara realitas kehidupan anak dengan gambaran kehidupan yang mereka lihat secara daring.
Kondisi ini dapat memicu perasaan tidak beruntung, rendah diri, hingga menurunnya rasa percaya diri pada anak.
Sumber: