Meski demikian, beberapa komunitas beradaptasi dengan menambahkan kegiatan sedekah, santunan, atau gotong royong.
Tantangannya adalah menjaga agar esensi kesederhanaan, ketulusan, dan pemulihan relasi sosial tetap terjaga.
“Munggahan menunjukkan cara masyarakat menyatukan identitas budaya lokal dengan nilai keagamaan. Tradisi ini menegaskan bahwa agama tidak hanya dipraktikkan secara individual, tetapi dilembagakan melalui simbol, kebiasaan, dan pertemuan komunitas,” jelas Dr Ivanovich.
Tradisi ini memperkuat keterikatan pada warisan budaya dan sejarah lokal, sekaligus menegaskan etika keagamaan seperti silaturahmi, saling memaafkan, dan kepedulian sosial.
BACA JUGA:7 Cara Jaga Kesehatan Kulit Selama Puasa Ramadan agar Tetap Glowing
Pelestarian Tradisi
Dr Ivanovich menekankan pentingnya menjaga otentisitas munggahan. Prioritaskan silaturahmi, saling memaafkan, dan berbagi.
Praktik yang inklusif, melibatkan tetangga, kelompok rentan, dan warga yang terpinggirkan, penting agar munggahan tidak menjadi tradisi eksklusif.
“Untuk generasi muda, munggahan harus dipahami sebagai sarana meningkatkan kualitas hubungan antarmanusia, bukan sekadar pengulangan kegiatan. Adaptasi boleh dilakukan pada tempat atau format, tetapi prinsip kesederhanaan, kepedulian, dan kebersamaan harus tetap dijaga,” pesannya.
Dengan pemahaman ini, munggahan terus hidup sebagai tradisi yang relevan, bermartabat, dan memperkuat solidaritas, kekeluargaan, serta identitas budaya masyarakat.