Mengapa Indonesia Bergantung pada Sapi Australia? Ini Analisis Ahli

Rabu 29-04-2026,09:49 WIB
Reporter : Marieska Virdhani
Editor : Marieska Virdhani

JAKARTA, DISWAY.ID - Dalam beberapa hari terakhir, media Australia ramai memberitakan bahwa MV Al Kuwait, kapal ekspor ternak hidup terbesar di dunia, telah berlayar dari Pelabuhan Darwin dengan membawa lebih dari 17.000 sapi ke Indonesia.

Awalnya, kapal ini direncanakan untuk mengekspor domba ke Timur Tengah. Namun, perang di Iran yang sedang berlangsung menghentikan perdagangan domba hidup.

Bagi Australia, Indonesia telah lama menjadi mitra utama karena merupakan pasar terbesar untuk ekspor ternak hidupnya.

Data tahun 2025, Indonesia membeli sekitar 583.418 ekor sapi seharga USD4,00 per kilogram bobot hidup. 

BACA JUGA:Ahli Sarankan Ikan Sapu-Sapu Diolah Jadi Pupuk Tanaman Hias

Mengapa Sapi Australia?

Menurut Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, faktor utama ketergantungan Indonesia pada sapi dari Australia adalah masih terbatasnya produksi daging domestik.

“Populasi sapi potong di dalam negeri belum cukup untuk memenuhi kebutuhan daging nasional, khususnya di kota-kota besar. Ini terkait dengan produktivitas sapi lokal yang relatif rendah dibandingkan dengan sapi Brahman Cross dari Australia,” ujarnya. 

Sapi bali misalnya, tumbuh lebih lambat dibandingkan sapi impor. Keterbatasan pakan dan lahan serta sistem peternakan rakyat yang masih tradisional dan belum efisien turut berkontribusi.

BACA JUGA:Ahli Genetika Ekologi Sebut Simpanse Mirip Manusia yang Juga Bisa 'Perang Saudara'

Distribusi pun tidak merata. Produksi terkonsentrasi di daerah tertentu seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, dan Jawa Tengah, sementara permintaan tinggi di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan.

Jika dilihat dari sisi konsumsi, permintaan daging sapi di Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan kelas menengah dan jumlah penduduk.

Industri makanan, restoran, hotel, dan katering membutuhkan pasokan daging sapi yang stabil.

Daging sapi juga memiliki nilai budaya tinggi, terutama saat momen keagamaan seperti Iduladha.

BACA JUGA:Ahli Genetika Ekologi Sebut Simpanse Mirip Manusia yang Juga Bisa 'Perang Saudara'

Ketidakseimbangan antara permintaan dan produksi ini mengakibatkan defisit pasokan. Untuk menutupi kekurangan, pemerintah memilih impor sapi hidup dari Australia.

Kategori :