“Dari segi logistik dan infrastruktur, Australia memiliki sistem ekspor ternak hidup yang terintegrasi, termasuk pelabuhan Darwin, Kimberley, dan Queensland. Didukung kapal-kapal besar seperti MV Al Kuwait yang mampu mengangkut puluhan ribu ekor sekaligus dengan harga yang relatif kompetitif,” tutur Prof Ronny.
BACA JUGA:Respons Tubuh yang Sering Diabaikan, Ahli Paparkan Penyebab Alergi
Manfaat vs Risiko Kerugian
Menurut Prof Ronny, impor sapi dari Australia menawarkan sejumlah manfaat, termasuk pasokan yang stabil untuk memastikan ketersediaan daging sapi di pasar lokal.
Selain itu, harga sapi impor relatif bersaing, memberikan pilihan lain bagi industri. Dari segi kualitas, sapi Australia (Brahman Cross) lebih cepat tumbuh dan lebih cocok untuk feedlot.
BACA JUGA:Kamu Menggertakkan Gigi saat Tidur? Ahli Beri Penjelasan Ilmiahnya
Semua faktor ini, kata dia, turut memperkuat hubungan perdagangan bilateral antara Indonesia dan Australia.
Namun demikian, ketergantungan ini menimbulkan risiko. Ketergantungan dan nilai impor yang tinggi membuat Indonesia rentan terhadap gangguan geopolitik, fluktuasi harga global, serta risiko logistik dan kesehatan hewan.
Sebagai gambaran, jika bobot sapi per ekor 300 kg, maka estimasi nilai impor tahun 2025 (583.418 ekor) mencapai USD700 juta, setara Rp11 triliun.