Ahli Ingatkan Hama Wereng dan Virus Kerdil Ancam Swasembada Beras

Ahli Ingatkan Hama Wereng dan Virus Kerdil Ancam Swasembada Beras

Waspada hama ancam swasembada beras--Unair

NTB, DISWAY.ID - Indonesia boleh berbangga atas capaian swasembada beras.

Namun para ahli perlindungan tanaman mengingatkan bahwa keberhasilan ini belum aman sepenuhnya.

Perubahan cuaca ekstrem, hujan yang datang lebih sering, suhu hangat, dan kelembapan tinggi, menciptakan kondisi ideal bagi berkembangnya wereng batang cokelat dan penyakit virus kerdil padi, dua ancaman serius yang bisa menurunkan produksi bahkan memicu gagal panen. 

Peringatan itu mengemuka dalam Webinar Dokter Tanaman Series: “Waspada! Antisipasi Virus Kerdil Padi” yang digelar Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman (Himasita) IPB University, Minggu (25/1). 

Dalam forum tersebut, tim Himasita IPB University melaporkan adanya kemunculan kembali wereng batang cokelat dan gejala penyakit kerdil di sejumlah wilayah seperti Lumajang, Subang, Tulungagung, Sragen, hingga Padang Pariaman.

BACA JUGA:Ahli Sebut Fenomena CENS Picu Anomali Pola Hujan Awal Tahun di Pulau Jawa

Hal ini menjadi sebuah sinyal bahwa kewaspadaan harus ditingkatkan.

Prof Widodo, Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University mengajak peserta melihat persoalan ini secara lebih menyeluruh.

Menurutnya wereng tidak peduli batas desa atau kabupaten. Karena itu, pengendalian hanya efektif kalau dilakukan bersama-sama. 

“Tanaman sehat itu bukan kebetulan. Ia lahir dari tanah yang terkelola baik, nutrisi seimbang, lingkungan yang mendukung, serta sistem budi daya yang ramah ekosistem,” ujar Prof Widodo di hadapan 450 peserta yang hadir secara daring dari berbagai kalangan.

BACA JUGA:Ramai di Media Sosial, Ahli Luruskan Fenomena Awan Kontainer

Hal serupa disampaikan Khamim Ashari, SP, praktisi pengendalian hama terpadu (PHT) senior dari Lamongan.

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan menjaga produksi tidak bisa dikerjakan oleh petani sendirian. Yang penting dilakukan adalah upaya pencegahan atau preemtif secara kolektif. 

“Kalau satu hamparan bergerak bersama, risiko bisa ditekan. Tapi kalau jalan sendiri-sendiri, wereng akan selalu menemukan celah,” tandasnya.

Sumber: