Benarkah Super Flu Jenis Penyakit Baru dan Bahaya? Simak Penjelasan Ahli

Benarkah Super Flu Jenis Penyakit Baru dan Bahaya? Simak Penjelasan Ahli

Waspada wabah super flu--Freepik

NTB, DISWAY.ID - Dunia termasuk Tanah Air tengah dilanda wabah Super Flu, yang disebut-sebut sebagai penyakit yang harus diwaspadai. 

Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, Dr dr Desdiani, SpP, MKK, MSc (MBioEt), menegaskan bahwa istilah super flu bukanlah nama penyakit baru, melainkan sebutan populer untuk menggambarkan peningkatan kasus influenza yang disebabkan oleh strain tertentu virus influenza.

Menurut dia, istilah superflu merujuk pada virus influenza A subtipe H3N2, khususnya subklade K, yang menyebar lebih cepat dan menyebabkan lonjakan signifikan kasus flu musiman.

Hampir 90 persen kasus flu terbaru dilaporkan disebabkan oleh strain ini. 

BACA JUGA:BPJS Kesehattan Hadirkan Fitur Skrinning Riwayat Kesehatan untuk Deteksi Dini Penyakit Kronis

Meski demikian, Dr Desdiani menyatakan bahwa istilah tersebut tidak dimaksudkan sebagai klasifikasi ilmiah baru, tetapi untuk menyoroti perubahan perilaku virus yang terus berevolusi.

“Virus influenza terus mengalami mutasi untuk menghindari sistem kekebalan tubuh manusia. Karena itu, vaksin flu perlu diperbarui secara berkala. Subtipe influenza A/H3N2 sendiri telah ada sejak 1968 dan sudah mengalami lebih dari selusin perubahan,” ujarnya.

Meskipun musim flu tahun ini dimulai lebih awal, tingkat penyebaran dan keparahan penyakit masih berada dalam batas normal untuk musim influenza.

BACA JUGA:Saksi Ahli Dukung Hotman Paris, Gugatan CMNP Dinilai Tak Punya Dasar Hukum Kuat

Hal yang perlu mendapat perhatian utama, menurutnya, adalah beban terhadap sistem layanan kesehatan di berbagai wilayah, yang sangat bergantung pada aktivitas virus serta ketersediaan fasilitas dan tenaga kesehatan.

Dr Desdiani menambahkan, pemantauan influenza secara global dilakukan melalui Global Influenza Surveillance and Response System (GISRS), jaringan yang dikoordinasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan melibatkan lebih dari 160 institusi di 131 negara.

Sistem ini berfungsi memantau virus influenza sepanjang tahun sekaligus menjadi peringatan dini terhadap munculnya virus baru yang berpotensi pandemi.

“Di negara tropis, aktivitas influenza relatif rendah pada Juni hingga Agustus 2025. Kasus mulai meningkat pada September dan terus naik hingga November 2025, dengan dominasi influenza A/H3N2. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, puncak kasus terjadi pada Agustus 2025 dengan subklade K sebagai yang dominan,” jelasnya.

BACA JUGA:Campak Mengganas, Imunisasi Anjlok! Kemenkes: Jangan Percaya Hoaks Vaksin

Sumber: