10 Langkah Belajar Mencegah dan Menangani Kekerasan

10 Langkah Belajar Mencegah dan Menangani Kekerasan

Ilustrasi Kekerasan Seksual--

NTB, DISWAY.ID - Di tengah maraknya isu kekerasan, termasuk kasus kekerasan seksual di masyarakat dan perguruan tinggi belakangan ini, Aksi Relawan Mandiri Himpunan Alumni (ARM HA) IPB University menggagas pelatihan singkat tentang penyadaran, pencegahan, dan penanganan kekerasan bertajuk “10 Langkah Menciptakan Lingkungan Aman dari kekerasan” pada Sabtu 9 Mei 2026 di Gedung Alumni IPB, Baranangsiang, Kota Bogor.

Pelatihan yang menjadi bagian dari Kelas Belajar ARM HA-IPB ini diikuti 25 orang pengurus dan relawan ARM HA-IPB serta Relawan Mahasiswa IPB (REMI) Badan Eksekutif Mahasiswa-Keluarga Mahasiswa (BEM KM). 

“Pelatihan ini memperkenalkan kepada peserta konsep, definisi, dan jenis-jenis kekerasan yang terjadi di sekitar masyarakat, khususnya kekerasan antarindividu (interpersonal violence),” ujar Ketua Umum ARM HA-IPB, Ir Ahmad Husein, MSi, yang bertindak sebagai fasilitator pelatihan tersebut. Husein merupakan lulusan angkatan pertama "Global Trainer of Trainers on Protection, Gender and Inclusion (PGI) in Emergencies" yang diadakan Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) di Istanbul, Turkiye, 2018.

BACA JUGA:Kemenag Gaspol Wujudkan Pesantren Ramah Anak, Bentuk Satgas Antikekerasan di Seluruh Indonesia

Ia menambahkan, “Banyak yang belum menyadari, kekerasan dapat terjadi di mana saja baik di lingkungan rumah, tempat kerja, sekolah dan kampus, ruang publik, hingga di area bencana.” 

Pendekatan 10 Langkah pertama kali diperkenalkan oleh Palang Merah Kanada (Canadian Red Cross) dan diintroduksi ke Indonesia melalui Palang Merah Indonesia (PMI) mulai 2011.

Pendekatan ini dinilai sistematis dan memberikan panduan rinci bagi organisasi dan kelompok masyarakat dalam memahami konsep kekerasan, memetakan masalah, membentuk tim pencegahan, mekanisme penanganan, hingga cara mempertahankan lingkungan yang  bebas dari kekerasan. 

BACA JUGA:KSKS Sebut Pelaku Kekerasan Seksual di Ponpes Harus Dihukum Berat, Bila Perlu Dikebiri

Pelatihan berlangsung dengan kombinasi presentasi, diskusi, kuis, kerja kelompok, hingga permainan edukatif yang memungkinkan peserta memahami lebih dalam urgensi pencegahan dan penanganan kekerasan yang terjadi.

Lewat permainan dan diskusi, peserta juga memahami dampak psikologis yang penyintas kekerasan alami. 

“Pelatihan ini membuat saya sadar bahwa kekerasan tidak selalu berbentuk fisik melainkan juga dapat berupa ucapan, tekanan, intimidasi, dan pelecehan verbal,” ujar Rudi Hartono, salah satu peserta.

Bendahara Umum ARM HA-IPB ini berkomitmen, dalam 6 bulan ke depan ia ingin menjadi bagian dari orang-orang yang menjaga, mendengar, menghormati, dan melindungi sesama dari kekerasan.

BACA JUGA:Ahli Sebut Dominasi Ikan Sapu-Sapu di Ciliwung Gejala Sungai 'Sakit' Akibat Pencemaran

M Zaki Al Ghifari, relawan REMI Angkatan 62 dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, mengatakan pelatihan ini amat relevan di tengah kasus yang tengah marak terjadi.

Sumber: