Bahaya Kesehatan Mengintai, Pembakaran Sampah Plastik Berisiko Picu Kanker
Permasalahan sampah plastik hingga kini masih menjadi tantangan serius.--Waste4Change
Organ yang paling rentan terdampak adalah hati atau hepar.
“Hati bekerja keras untuk mendetoksifikasi racun. Namun, karena struktur kimia dioksin dan furan sangat stabil dan sulit diurai, justru terjadi beban kerja berlebih yang memicu peradangan,” katanya.
Selain itu, senyawa-senyawa tersebut juga dikenal sebagai endocrine disrupting chemicals (EDC) yang dapat mengganggu sistem hormon.
Diah menegaskan bahwa zat ini mampu meniru atau menghambat kerja hormon alami tubuh, sehingga berisiko mengacaukan sistem reproduksi dan metabolisme.
BACA JUGA:Hewan Memutari Objek Bukan Mistis, Ini Penjelasan Ahli Secara Ilmiah
Bahkan, paparan dapat menembus sawar plasenta.
“Artinya, pada ibu hamil, zat ini berpotensi terakumulasi dan mengganggu perkembangan janin,” ujarnya.
Risiko kesehatan tidak hanya dialami oleh konsumen, tetapi juga masyarakat yang tinggal di sekitar sentra industri.
Menurut Diah, asap pembakaran plastik mengandung partikel halus PM2,5 serta mikroplastik di udara yang dapat terhirup hingga ke paru-paru.
BACA JUGA:Makan Sehat Tak Harus Mahal, Ini Tips Ahli untuk Mahasiswa
“Partikel ini sulit diurai oleh sistem pertahanan tubuh dan dapat memicu peradangan secara terus-menerus,” jelasnya.
Dalam jangka pendek, paparan tersebut dapat menyebabkan gangguan pernapasan seperti batuk dan infeksi saluran pernapasan akut.
Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi penyakit paru kronis seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta menurunkan daya tahan tubuh, terutama pada anak-anak dan lansia.
BACA JUGA:Apakah Baking Soda Aman Dikonsumsi Langsung? Ini Kata Ahli
Diah menegaskan bahwa langkah paling penting untuk menekan risiko kesehatan adalah menghentikan penggunaan limbah plastik sebagai bahan bakar.
Sumber: